Kalijodo, salah satu lokalisasi terbesar di Jakarta rencananya akan ditutup oleh
Gubernur DKI Ahok, untuk mengembalikan ruang terbuka hijau.
Terlepas dari Pro dan Kontra, ternyata Kalijodo menyimpan banyak cerita.
Salah
satu contohnya adalah tentang Burung Beo yang turut menghuni Kalijodo.
Alkisah,
Seorang ibu pergi ke toko hewan dan melihat burung Beo yang indah.
Saat ditanya, harganya cuma 50 ribu. Tentu saja Si Ibu Heran.
Ibu: "Kok murah mas?"
Sipemilik Kios: begini bu "Beo ini dulunya dipelihara dirumah bordil di
Kalijodo jadi sering ngomong jorok, makanya dijual sangat murah karna
gak ada yang mau beli".....
Si ibu berpikir sejenak & memutuskan
untuk beli burung yg indah itu. Ia membawa pulang dan menaruhnya di
sangkar di ruang tamu....
Burung itu melihat ke sekeliling ruangan, lalu melihat ibu itu dan berkata: "Rumah baru, mami baru" Ibu itu kaget, tapi dia menganggapnya lucu ......
Saat anak gadisnya pulang dari sekolah, burung itu melihatnya dan berkata, "Rumah baru, mami baru, wajah baru" Si anak dan ibu itu merasa sedikit tersinggung, tapi akhirnya bisa mengerti, toh itu cuma seekor burung... Beberapa saat kemudian suami Si Ibu yang pulang dari kantor. Begitu Burung Beo itu melihatnya, ia berkata: "Ciluk baaa.!! Halo Oom... ketemu lagi kitaaa... Langganan lama.. Langganan lamaa... Si ibu langsung teriak : "Bapaaaaakkkk..!!!"
Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan
Jiwa (PPDGJ) III. Sumber : di sini
Nyatakan LGBT Gangguan Jiwa, dr Fidiansyah Dituding Menutupi Kebenaran
Aksi Skakmat dr Fidiansyah Sp KJ MPH di acara Indonesia Lawyers Club
yang diadakan TV One pada Selasa (16/2/2016) lalu berbuntut pada silang
pendapat.
Dalam acara tersebut, Fidiansyah yang merupakan
psikiater sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah
Kesehatan Jiwa dan Napza di Kementerian Kesehatan menyatakan, Lesbian,
Gay, Biseksual, dan Transeksual (LGBT) adalah gangguan jiwa.
dr Fidiansyah Sp KJ MPH di acara Indonesia Lawyers Club, sumber: di sini
Fidiansyah
mengatakan, pernyataannya didasarkan pada buku teks tebal yang memuat
panduan tentang diagnosis psikologi dan gangguan kejiwaan.
Dia
mengatakan bahwa buku yang selama ini digunakan kalangan LGBT dan
pendukungnya adalah buku saku yang tidak menjelaskan secara lengkap
tentang doagnosis mengenai LGBT.
"Mohon maaf, buku yang dipakai
itu buku saku Pak, kalau buku kami, text book-nya tebel begini Pak.
Sama-sama membahas LGBT, tapi ini yang lengkap," ungkap dr fiansyah.
"Silahkan
dibuka halaman 288, 280 dan 279. Persis kalimatnya ada. Ini adalah
masih sebuah gangguan,” imbuhnya. Host Karni Ilyas kembali menanyakan
dan Fidiansyah menegaskan bahwa LGBT adalah "gangguan jiwa".
Hebat!!! Argumen Ilmiah Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ Membuat Aktivis LGBT Mati Kutu. Sumber : di sini
Video pernyataan Fidiansyah yang bisa ditemukan di Youtube itu dibagikan
ratusan ribu kali ke media sosial. Kalangan anti-LGBT menggunakannya
sebagai referensi pendukung.
Sejumlah media membuat berita dengan
dasar video itu. Portal www.tarbiyah.net misalnya, membuat berita
berjudul "Argumen Ilmiah Dr Fidiansjah Bikin Pendukung LGBT Mati Kutu".
Fidianyah
adalah mantan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dan
menjadi salah satu pembimbing di Peduli Sahabat, komunitas yang salah
satu tujuannya adalah "meluruskan" LGBT.
Dalam acara ILC,
Fidiansyah juga mengatakan bahwa pedoman diagnosis gangguan jiwa tidak
bisa hanya berdasarkan sains saja tetapi juga spiritual.
Belakangan
kemudian muncul bantahan dari pernyataan Fidiansyah. Bantahan secara
tidak langsung muncul dari dr Andri SpKJ FAPM, psikiater dengan
kekhususan psikosomatik medis dari Universitas Indonesia.
Andri yang menulis di Kompasiana
pada Jumat (19/2/2016) menegaskan dengan huruf kapital, "Homoseksual
(Gay dan Lesbian) dan Biseksual TIDAK TERMASUK GANGGUAN JIWA."
Andri
mendasarkan diagnosanya pada Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan
Jiwa (PPDGJ) III yang merupakan buku pedoman diagnosis gangguan jiwa
yang dipakai di Indonesia, diterbitkan oleh Kemenkes tahun 1993.
Buku
tersebut merupakan buku yang sama seperti yang dimaksud Fidiansyah.
Dalam tulisannya, Andri menunjukkan dengan detail bagaimana buku itu
menyatakan bahwa LGBT buka gangguan jiwa.
"Pada kode F66 Gangguan Psikologis dan Perilaku yang Berhubungan Dengan
Perkembangan dan Orientasi Seksual, di bawahnya langsung tertulis:
catatan: Orientasi Seksual Sendiri Jangan dianggap sebagai suatu
Gangguan," jelas Andri.
Butir F66 pada halam 288 buku tersebut
menyatakan adanya gangguan maturitas seksual. Di situ, yang dimaksud
adalah individu yang mederita karena ketidakpastian tentang identitas
jenis kelamin dan orientasi seksualnya.
Ketidakpastian identitas
jenis kelamin misalnya terjadi pada Muhammad Prawirodijoyo alias Joy.
Perkembangan kelamin sejatinya terlambat sehingga harus disesuaikan
ketika dewasa.
Gangguan maturitas seksual juga bisa menimpa LGBT.
Namun, bukan LGBT itu sendiri yang merupakan penyakit. Lebih pada
perasaan menderita sebab belum menemukan dirinya.
Seorang netizen Herman Saksono menanggapi ungkapan Fidiansyah di dalam blog-nya :hermansaksono.com. Ia mengungkap ada sejumlah bagian dari buku pedoman diagnosis gangguan jiwa yang tidak dikatakan oleh Fidiansyah.
Pertama soal bahwa orientasi seksual bukan masalah. Kedua, bahwa homoseksualitas sebenarnya setara dengan heteroseksualitas.
"dr.
Fidiansjah melenyapkan 2 kalimat dan merangkai potongan-potongan
tulisan PPDGJ III sehingga homoseksualitas dan biseksualitas seolah-olah
adalah gangguan jiwa," tulisnya.
Fidiansyah dalam acara ILC
menyatakan agar tidak membaca sepotong-sepotong. Namun menurut Herman,
Fidiansyah-lah yang membaca sepotong-sepotong. "Di sini nampak bahwa dr.
Fidiansjah tidak mengatakan kebenaran," katanya.
"Kesalahan dr.
Fidiansyah tidak dapat diterima. dr. Fidiansyah harus mengkoreksi
ucapannya kepada publik dan meminta maaf karena tindakannya berpotensi
melanggengkan diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum marginal
homoseksual, biseksual, dan LGBT pada umumnya," imbuhnya.
Penolakan Hasil Riset Karena Alasan Kepercayaan
Dunia sains terbuka pada banyak hal, tetapi kurang pada urusan seks, jender, dan orientasi seksual. Sementara
ilmu psikologi, neurologi, fisiologi, genetika, dan ekologi perilaku
memberi petunjuk tentang proses di balik pembentukan identitas seks,
jender, dan orientasi seksual, cukup banyak pula ilmuwan yang belum
menyerapnya.
Akibatnya, di tengah isu lesbian, gay, biseksual,
dan transjender (LGBT) yang ramai belakangan ini, ilmuwan belum mampu
mencerahkan publik dan membantu mengurangi diskriminasiKepada Kompas.com
beberapa waktu lalu, dr Ryu Hasan yang seorang neurolog juga
mengungkapkan bahwa LGBT bukan gangguan jiwa dan tidak harus diobati
atau diterapi.
Neurolog dari Rumah Sakit Mayapada, Roslan Yusni atau Ryu, mencontohkan yang terjadi pada kalangan dokter.
Neurologi
kini telah mengungkap bahwa orientasi seksual seks, jender, dan
orientasi seksual disebabkan oleh variasi struktur otak. Variasi
tersebut terbentuk sejak masa kehamilan sekitar 8 minggu. Variasi
itu bisa dibuktikan lewat pindai Positron Emission Tomography (PET).
Bagian otak yang disebut amigdala pada laki-laki homoseksual mirip
dengan perempuan heteroseksual.
"Tapi, masih banyak dokter yang belum tahu itu," kata Ryu dalam diskusi di Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta, Selasa (9/2/2016).
Menurut Ryu, masih banyak dokter yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah penyakit.
Permasalahan lain dalam dunia kedokteran Indonesia, menurut Ryu, adalah adanya penolakan hasil riset karena alasan kepercayaan.
"Menganggap bahwa science dan keyakinan adalah dua hal yang terpisah. Kalau tidak sesuai keyakinan, maka science-nya diabaikan," imbuhnya.
Dalam soal LGBT, walaupun sains mengungkap bahwa itu adalah variasi, keyakinan akhirnya mematahkan.
Peneliti pada Pusat Kajian Jender dan Seksualitas Universitas Indonesia mengatakan kasus yang sama pada dunia psikologi.
"Homoseksualitas
sudah lama dihapus dari golongan gangguan jiwa, tetapi sampai sekarang
masih banyak psikiater dan psikolog yang belum tahu," kata Irwan.
Dalam
soal seksualitas, banyak psikolog belum bergerak dari pandangan Sigmund
Freud seabad lalu. Padahal, seksualitas dalam pandangan Freud telah
usang.
PULUHAN SENJATA TAJAM, RATUSAN ANAK PANAH, RATUSAN KOTAK KONDOM, DAN RIBUAN KALENG & BOTOL BIR DITEMUKAN DI KALIJODO
Kondom yang ditemukan di kafe milik Daeng Azizdi Kalijodo (Liputan6.com/ Muslim AR)
OPERASI PEKAT DI KALIJODO
Operasi Pekat yang digelar
sejak pukul 04.00 WIB itu menyasar 66 kafe di kawasan Kalijodo,
Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Puluhan senjata tajam, ratusan kotak kondom, ratusan anak panah, ribuan kaleng dan botol bir ditemukan di Kalijodo,
Jakarta Utara. Barang-barang itu diamankan lewat Operasi Penyakit
Masyarakat (Pekat) yang melibatkan ribuan aparat gabungan Polda Metro
Jaya, TNI, dan Satpol PP.
PULUHAN SENJATA TAJAM, RATUSAN ANAK PANAH, RATUSAN KOTAK KONDOM, DAN RIBUAN BOTOL & KALENG BIR DISITA
Kafe Intan, Kalijodo, milik Daeng Aziz. Sumber: di sini
"Ada sekitar 10 ribu-an bir yang kita
temukan di sini (Kafe Intan), 400 anak panah yang kami duga beracun,"
ujar Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Kombes Martuani Sormin di
lokasi, Jakarta, Sabtu (20/2/2016).
Selain menyita ratusan kondom, polisi juga menyita gunting, palu,
linggis, pisau pemotong kue, dan foto-foto perempuan yang didapat dari
kafe-kafe tersebut.
Ribuan botol dan kaleng bir dikeluarkan dari kafe. Saat berita ini
ditulis polisi tengah menanyai beberapa saksi atas kepemilikan
barang-barang yang diduga berbahaya itu.
Direskrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna
Murti menyatakan, barang bukti terbanyak didapatkan dari Kafe Intan.
Kafe tersebut diduga milik pentolan Kalijodo, Abdul Azis atau yang karib
disapa dengan Daeng Aziz.
Dari pantauan Liputan6.com
di lapangan, setidaknya ratusan kotak kondom dengan merek Sutra
diamankan. Saat ini, polisi masih mendata dan memuat ribuan botol dan
kaleng bir dari Kafe Intan di Kalijodo.
SYLVESTER STALONE BOCORKAN RAHASIA OTOT TUBUH TETAP KEKAR DI USIA 70 TAHUN
Sylvester Stalone, Otot Tubuhnya Tetap Kekar di Usia 70 Tahun. Sumber: di sini
USIA 70 TAHUN, TUBUH TETAP BEROTOT, PERUT TETAP SIX-PACK
Tahun ini, Sylvester Stallone genap berusia 70 tahun, namun hebatnya aktor gaek
ini mampu menjaga otot tetap kekar dan tubuh tetap berotot, dengan perut sixpack.
Melalui channel Youtube milik Six Pack Shortcuts, Sylvester Stallone
membocorkan rahasia otot tetap kekar dan tubuh ramping di usia yang
tergolong tua. Di dalam video berdurasi 51 menit 07 detik yang diunggah pada Senin
(8/2/2016), dia mengatakan, latihan rutin yang dilakukannya adalah
movements.
RAHASIANYA: LATIHAN RUTIN SETIAP HARI
Intinya, latihan jenis movements yang dilakukan pemeran film
Rambo ini tidak sebentar. Butuh waktu lebih dari satu tahun supaya
otot-otot itu tetap kekar sempurna. Dia sadar, di usianya yang semakin
tua, penumpukanan makanan yang disantap berubah jadi lemak.
Maka, pada 30 hari pertama, dia terlebih dulu fokus pada pembekaran
lemak. Dia mengatakan, setiap orang butuh waktu yang berbeda-beda untuk
membakar lemak.
Barulah setelah semuanya dirasa pas, Sylvester Stallone fokus pada
pembentukan otot. Semua jenis latihan yang dilakukan setiap harinya
diperhatikan dengan benar.
JADWAL & JENIS LATIHAN SYLVESTER STALONE DALAM MENJAGA TUBUHNYA
Seperti dikutip Health Liputan6.com pada Jumat (12/2/2016), Sylvester
Stallone berolahraga setiap hari, di pagi dan sore hari Pada hari
Minggu, dia fokus pada kardio atau aerobik.
Senin, Rabu, Jumat
Pada pagi hari, dia fokus pembentukan dada;
4 set incline bench press (8 sampai 10 repetisi)
5 set close grip bench press (6 sampai 8 repetisi)
4 set bent over one arm dumbbell raisess (8 sampai 10 repetisi)
4 set close grip seated rows (8 sampai 10 repetisi)
3 set seated extension (8 sampai 10 repetisi)
3 set raised leg crunches (8 sampai 10 repetisi)
Sore (bahu, lengan, perut)
4 set military shoulder press (8 sampai 10 repetisi)
4 set side dumbbell raises (10 sampai 12 repetisi)
5 set bent over dumbbeel flys (6 sampai 8 repetisi)
3 set barbell curls (8 sampai 10 repetisi)
3 set incline seated dumbbell curls (8 sampai 10 repetisi)
Selasa, Kamis, Sabtu
Pagi fokus pada kaki
4 set seated calf raises (8 sampai 10 repetisi)
4 set standing calf raises (10 sampai 12 repetisi)
5 set barbell standing calf alternating raises (8 sampai 12 repetisi)
4 set incline leg press (8 sampai 10 repetisi)
4 set seated leg extensions (8 sampai 10 repetisi)
Sore fokus pada traps dna perut
4 set bent over dumbbell raise lateral (8 sampai 10 repetisi)
4 set cable crossovers (10 sampai 12 repetisi)
4 set reverse pec deck (8 sampai 12 repetisi setiap sisi)
4 set barbell shrugs front (8 sampai 10 repetisi)
4 set barbell upright rows (8 sampai 10 repetisi)
4 set flat bench cable rows to neck (8 sampai 10 repetisi)
4 set ab crunch (8 repetisi)
4 set oblique crunches (10 repetisi)
4 set cable crunch (10 sampai 12 repetisi)
Musik bukan hanya obat pereda stres atau pembangkit mood.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Cleveland Clinic Foundation di
Ohio, musik juga memiliki kekuatan menyembuhkan bahkan hanya dalam
waktu beberapa jam.
Seperti dilansir Onlymyhealth, Sabtu (13/2/2016) peneliti
menemukan, orang yang mendengarkan musik selama satu jam sehari selama
seminggu, melaporkan penurunan nyeri sendi (sekitar 20 persen), depresi
dan cacat dibandingkan dengan sekelompok orang yang tidak mendengarkan
musik.
Tak hanya itu, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Advanced Nursing ini juga mencatat, orang yang mendengarkan musik klasik bisa meredakan nyeri sendi karena osteoarthritis. Selama sesi penelitian, orang yang mendengarkan musik juga merasa nyaman dan detak jantung lebih lambat.
"Otak bereaksi terhadap musik yang Anda dengarkan dan merangsang area
otak yang melepaskan obat penghilang rasa sakit alami tubuh. Daerah
otak itu disebut the periaqueductal gray (PAG) atau pusat otak yang mempengaruhi sistem opioid kita sendiri," kata peneliti.
Selain itu, musik juga menghentikan area otak yang disebut amigdala,
fungsi yang membawa emosi negatif seperti stres. Musik mengalihkan
perhatian Anda dari rasa sakit tanpa efek samping.
Dalam penelitian yang dilakukan Florida Atlantic University College
of Nursing di Boca Raton, musik bermelodi lambat cenderung memiliki efek
pengobatan. Terapis musik juga menemukan pola pernapasan menjadi
seirama dengan musik, demkian juga dengan detak jantung yang jadi
seirama dengan tempo musik. Mereka yang mendengarkan musik saat sakit
memiliki sekitar 70 denyut per menit.